hfz

  • Archive
  • RSS
  • Ask me anything
Berjalan menuju masjid untuk shalat Jumat, dengan tas punggung di belakang, terasa jiwa-anak-SD di dalam hatiku tersenyum-senyum senang.

Kenapa?

Karena di dalam tas punggung itu ada sebuah kotak ajaib. Hitam, warnanya. Kecil. Namun di dalam kotak ajaib itu ada sebuah dunia. Luas, pemandangannya indah, dipenuhi gunung dan sungai dan kota dan bandit dan naga.

Narnia ada di balik lemari, dan Skyrim berdiam di belakang punggungku. Dan jiwa-anak-SD di hatiku tak sabar ingin berkunjung lagi dan lagi.
Pop-upView Separately

Berjalan menuju masjid untuk shalat Jumat, dengan tas punggung di belakang, terasa jiwa-anak-SD di dalam hatiku tersenyum-senyum senang.

Kenapa?

Karena di dalam tas punggung itu ada sebuah kotak ajaib. Hitam, warnanya. Kecil. Namun di dalam kotak ajaib itu ada sebuah dunia. Luas, pemandangannya indah, dipenuhi gunung dan sungai dan kota dan bandit dan naga.

Narnia ada di balik lemari, dan Skyrim berdiam di belakang punggungku. Dan jiwa-anak-SD di hatiku tak sabar ingin berkunjung lagi dan lagi.

  • 5 months ago
  • Permalink
  • Share
    Tweet
What!? You say. I’m not a kid! We’re all kids. The universe is 14 billion years old. I’m 43.
James Altucher
  • 5 months ago
  • Permalink
  • Share
    Tweet

(Pro)blems

The one thing that bothers me about getting my mind tied up with my own personal issues is that I can’t spare the time to work on more interesting, more useful to more people, tasks. The real pro, I think, are those who optimize their usefulness to themselves and others. Mostly others.

Yet I still do that from time to time, as if I weigh the same (or actually, more!) than six plus billions of other people in terms of importance. This is not quite a comfortable dilemma to have.

  • 5 months ago
  • Permalink
  • Share
    Tweet
It is He who made the sun a shining light and the moon a derived light and determined for it phases - that you may know the number of years and account [of time]. Allah has not created this except in truth. He details the signs for a people who know

Qur’an surat Yunus, ayat 5.

Aku baru saja membaca di Askscience Reddit. Ada orang bertanya begini: “Seberapa akurat nenek moyang kita mencatat waktu? Benarkah sekarang memang tahun 2011?”

Pertanyaan yang menarik, masuk akal juga. Sangat mungkin bukan, bahwa orang-orang jaman dahulu entah karena tidak ada teknologi yang memadai, atau perang, atau alasan lain, tidak mencatat waktu dengan baik?

Jawabannya: memang tepat bahwa sekarang adalah tahun 2011. Tetapi pembuktiannya tidak sepenuhnya menggunakan catatan-catatan.

Pembuktiannya, ternyata, menggunakan astronomi:

I should explain that astronomy, especially the motion of the bodies in our solar system is a very, very precise science. We can predict (or deduce) the positions of the planets, moons and sun at any time, far into the future or past, with very good accuracy.

There are lots of records in the fragmented written history which refer to astronomical events, most notably eclipses (or comets). So you get Greek historians referring to battles happening in such-and-such an olympiad, and there was a lunar eclipse the night before. Then, you get another one saying that in an olympiad corresponding to 37 years later, there was a solar eclipse during the harvest or something like that.

Because we already have an idea of when these events happened, we can run the planetary motion simulation program, and we find that in 451 BC there was a lunar eclipse in Greece and that there was a solar eclipse in the fall of 434 BC in Greece or something like that. Because these events are rare, we can state with high confidence that those dates are exact. (I’ve made up the numbers and events, so don’t try to Google them, but the principle is correct.)

Consider Thales of Miletus, the first(!) Greek (and therefore Western) philosopher or scientist. Back then (600s-500s BC) the records were poor, and we’re not even really sure exactly when he was born or died. He predicted a solar eclipse at some time in his life. But using astronomy, we just run the numbers, and we can state with great confidence that that was on May 28, 585 BC!

So we get a series of these instances in the written record referring to events that we can pin down with certainty, all along the written record. And it turns out that there are no gaps or overlaps, in other words, Western timekeeping has not lost or gained anything since it started, and we know that all dates in the past, in addition to the present dates, are not ballpark figures, but actually exact. This is all possible due to the precision of astronomy. (OreoPriest)

Jadi dengan astronomi kita bisa secara akurat mendapatkan tanggal dan waktu. Persis, persis yang dijelaskan di Al Qur’an surat Yunus ayat 5.

  • 5 months ago
  • Permalink
  • Share
    Tweet
As incisive as his writing could be, DFW almost always eschewed cynicism in favor of humanism and emotional sincerity.
achompas, about David Foster Wallace.
  • 5 months ago
  • Permalink
  • Share
    Tweet
It is not possible for us to live a million lives. This is why we read.
  • 5 months ago
  • Permalink
  • Share
    Tweet

Anatomy of a Stress

Aku sedang stres. Masalahnya adalah kegagalan menginstal Windows 7 pada sebuah netbook.

Di internet, banyak tutorial yang menjelaskan cara melakukan hal itu. Kuikuti dengan seksama. Tetapi selalu terbentur pada galat yang sama, meski aku sudah beberapa kali mencoba variasi instalasi.

Gerah, kucoba mengalihkan perhatian dengan mengamati diriku sendiri. Mengenali apa yang terjadi ketika stres datang.

Stres, ternyata, paling terasa di dada. Rasanya sesak, dan nafasku tanpa kusadari terasa pendek-pendek. Terlalu pendek, malah. Hyperventilating. Entah kenapa, tekanan batin ternyata menyebabkan aku hyperventilating. Pernafasan hanya di dada, bukan nafas perut. Jadinya dada terasa dicengkeram.

Lalu di bagian atas perut juga terasa sesuatu. Seperti maag, tapi tidak sedalam itu. Berdenyut-denyut pelan, tidak nyaman, seperti rasa lapar yang mengganggu.

Secara fisik, itu yang terasa. Pikiranku sendiri memang keruh. Seperti ada rasa kesal karena berulang-ulang mencoba (dengan cara berbeda, karena bukankah opa Einstein bilang hanya orang gila yang mengharap hasil berbeda dari cara yang sama). Masih gagal. Tetapi setelah cepat-cepat membuat mindmap berisi cara apa lagi yang bisa dicoba, kepala terasa lebih enteng.

Mungkin yang juga membantu adalah sejak awal aku sadar bahwa yang kulakukan ini bukan kebutuhan primer. Tidak harus selesai sekarang.

Sekarang, rasa tidak nyaman yang tersisa tinggal naluri umum seorang laki-laki: tidak tenang kalau berangkat tidur sementara ada sesuatu yang belum beres. When something breaks, we just want to do everything to fix it. Bukankah begitu?

Maka itu sekarang aku belajar untuk… aku tidak tahu pasti untuk apa. Untuk berhenti sejenak dan berusaha kembali besok, barangkali. Selama ini jika ada tembok yang menghalangi, naluri laki-lakiku terus memaksa untuk menghantam dan menghantam dan tidak berhenti sampai tembok itu runtuh.

Naluri yang membawa stres tingkat tinggi.

  • 5 months ago
  • Permalink
  • Share
    Tweet
Normal” tooth coloring actually should be yellowish. this is because enamel is somewhat translucent and dentin (which is underneath enamel) is yellow. that kind of coloring is not indicative of tooth health and is completely normal, and bleaching your teeth certainly does not make them healthier.

rduner di reddit.

Gigi tidak harus putih.

  • 5 months ago
  • Permalink
  • Share
    Tweet
A girl in isolation for radiation screening looks at her dog through a window in Nihonmatsu, Japan on March 14. (foto dari Reuters)


Aku menemukan foto ini di sebuah list berisi 45 foto paling powerful di 2011. Semua berkesan, tapi yang satu ini membuatku tertegun.



Harus mulai dari mana menjelaskan kesan yang terasa dari foto ini? Temanya jelas, perpisahan antara seorang pemilik anjing dengan anjingnya akibat bocornya reaktor nuklir di Jepang beberapa waktu lalu.



Yang menggugah adalah bagaimana elemen-elemen di dalam foto memperkuat tema tersebut.



Lihatlah kaca yang berembun. Dari galur-galur airnya tergambar kesan dingin dan keputusasaan. Dan galur serta embun itu tanpa disengaja menutupi wajah si wanita, sehingga hanya memperlihatkan bibirnya yang secara misterius dapat diartikan sebagai entah senyuman atau kesedihan. Hanya itu, dan jemarinya yang menyentuh kaca, yang bisa kita dapat darinya. Tetapi ekspresi yang hanya sebagian ini justru semakin meningkatkan intensitas perasaan yang memancar dari hatinya.



Lalu lihatlah si anjing: ia mengangkat tinggi-tinggi kakinya seperti ingin sedalam-dalamnya menatap wajah pemiliknya; lama tak ia jumpai. Ekornya tertangkap kamera tengah dalam sebuah gerakan, mudah dibayangkan kegembiraannya mengibas-ngibaskan ekor karena perjumpaan itu. Namun pada telinganya yang runduk dan ekspresi matanya yang kita tidak bisa melihat, tersirat kesedihan dan pertanyaan-pertanyaan. Mengapa kaca ini menghalangiku? Mengapa aku tak bisa menyentuh hangat jari-jemari itu?



Dan terakhir adalah pria misterius yang membawa anjing. Hanya terlihat dari pinggang ke bawah, namun tergambar jelas bahasa tubuhnya. Bahunya turun, putus asa. Genggaman talinya tidak erat, seperti ingin melepas si anjing agar dapat menghambur pada pemiliknya. Kepalanya tunduk. Melihat pertemuan di hadapannya, hatinya patah.



Tertangkap dalam sebuah foto, momen yang mengharu biru.
Pop-upView Separately
A girl in isolation for radiation screening looks at her dog through a window in Nihonmatsu, Japan on March 14. (foto dari Reuters)

Aku menemukan foto ini di sebuah list berisi 45 foto paling powerful di 2011. Semua berkesan, tapi yang satu ini membuatku tertegun.

Harus mulai dari mana menjelaskan kesan yang terasa dari foto ini? Temanya jelas, perpisahan antara seorang pemilik anjing dengan anjingnya akibat bocornya reaktor nuklir di Jepang beberapa waktu lalu.

Yang menggugah adalah bagaimana elemen-elemen di dalam foto memperkuat tema tersebut.

Lihatlah kaca yang berembun. Dari galur-galur airnya tergambar kesan dingin dan keputusasaan. Dan galur serta embun itu tanpa disengaja menutupi wajah si wanita, sehingga hanya memperlihatkan bibirnya yang secara misterius dapat diartikan sebagai entah senyuman atau kesedihan. Hanya itu, dan jemarinya yang menyentuh kaca, yang bisa kita dapat darinya. Tetapi ekspresi yang hanya sebagian ini justru semakin meningkatkan intensitas perasaan yang memancar dari hatinya.

Lalu lihatlah si anjing: ia mengangkat tinggi-tinggi kakinya seperti ingin sedalam-dalamnya menatap wajah pemiliknya; lama tak ia jumpai. Ekornya tertangkap kamera tengah dalam sebuah gerakan, mudah dibayangkan kegembiraannya mengibas-ngibaskan ekor karena perjumpaan itu. Namun pada telinganya yang runduk dan ekspresi matanya yang kita tidak bisa melihat, tersirat kesedihan dan pertanyaan-pertanyaan. Mengapa kaca ini menghalangiku? Mengapa aku tak bisa menyentuh hangat jari-jemari itu?

Dan terakhir adalah pria misterius yang membawa anjing. Hanya terlihat dari pinggang ke bawah, namun tergambar jelas bahasa tubuhnya. Bahunya turun, putus asa. Genggaman talinya tidak erat, seperti ingin melepas si anjing agar dapat menghambur pada pemiliknya. Kepalanya tunduk. Melihat pertemuan di hadapannya, hatinya patah.

Tertangkap dalam sebuah foto, momen yang mengharu biru.

  • 5 months ago
  • Permalink
  • Share
    Tweet

Purging My Head

Di tengah-tengah kesibukan berupaya, sempat terbersit di dalam pikiran: “Ya Tuhan, lihatlah saya ini apa, bukan siapa-siapa kan? Just small old me. Mengapa tanggung jawabku jadi bertumpuk begini?”

And I admit, saying that gave me a grim feeling of joy. The sweet taste of surrender.

And throughout the day I took a look at people and thought about how they didn’t realize how great it is to have so many free time in their hands. I saw a guy playing guitars on the way to pick up my wife and thought about how lucky he is to be able to do that in the middle of the hustle and bustle of the city. I saw my cousin twittering nonsense back and forth with his friends and thought about how carefree his life is.

The only reason I’m writing all this is because I am fully aware that I was wrong. I’m writing those thoughts now so they get out of my head. I put them into words so I can ridicule them.

Also so I can be thankful and optimistic.

  • 5 months ago
  • Permalink
  • Share
    Tweet
← Newer • Older →
Page 1 of 2
Words and punctuations handpicked in chilly Malang, indonesia.

Me, Elsewhere

  • @hfz on Twitter
  • RSS
  • Random
  • Archive
  • Ask me anything
  • Mobile

Effector Theme by Carlo Franco.

Powered by Tumblr